Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 13 November 2009
Menurut laporan terakhir Crop Prospects and Food Situation Report Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), harga pangan di negara-negara miskin tetap “tinggi” walaupun produksi sereal dunia bagus tahun ini. Badan PBB tersebut mencatat bahwa ketidakamanan pangan saat ini berdampak pada 31 negara dengan situasi yang sangat serius di Afrika Timur dimana 20 juta orang sangat membutuhkan bantuan pangan.
FAO mengungkapkan bahwa meskipun harga pangan secara signifikan telah jatuh sejak puncaknya beberapa tahun lalu “harga internasional gandum dan jagung menguat di Oktober dan harga ekspor padi membaik diatas level sebelum krisis.”
“Bagi penduduk dunia miskin yang menghabiskan sampai 80 persen keuangan rumah tangganya untuk makanan, krisis harga pangan tersebut belumlah berakhir,” ujar Asisten Direktur Jendral FAO Hafez Ghanem. “Hal itu kini merupakan sebuah prioritas global untuk meningkatkan investasi di pertanian negara berkembang dalam rangka memerangi kemiskinan dan kelaparan”. FAO merilis laporannya bertepatan pada World Summit on Food Security yang akan diselenggarakan di Roma minggu depan.
Untuk informasi lebih lanjut, baca http://www.fao.org/news/story/en/item/37127/icode/