Indonesia Biotechnology Information Center
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

Workshop Bioteknologi "Pertanian Modern yang Berkelanjutan"

assets/Foto/Workshop-Petani-Yogyakarta/_resampled/SetWidth114-P3182038.jpg

Yogyakarta, 17-18 Maret 2010

ARTIKEL

  • PARIAMAN DATA KEANEKARAGAMAN HAYATI

    *PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...

  • PETANI INDONESIA SEHARUSNYA LEBIH MAKMUR

    *BANDUNG, KOMPAS.com* - Kemakmuran para petani di Indonesia seharusnya bisa lebih baik dari saat ini. Sektor agrobisnis sepatutnya justru membuat kehidupan mereka...

  • HARGA KAKAO TURUN TERUS, PETANI PUSING

    Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...

IITA menerima 2,4 Juta Dollar AS untuk Mengembangkan Tanaman Singkong Tahan Virus

Tanggal : 5 February 2010

Yayasan Bill dan Melinda Gates telah menganugerahkan kepada Nigeria-based International Institute of Tropical Agriculture (IITA) dan parnernya Agricultural Research Institute (ARI) Tanzania, dan National Agricultural Research Organization (NARO), Uganda sebesar 2,4 juta dollar AS selama 4 (empat) tahun untuk mengembangkan varietas singkong tahan virus CBSD (Cassava Brown Streak Disease). Virus ini pertama kali teridentifikasi di Malawi yang menyebabkan penyakit serius yang mengancam produksi singkong di Afrika Timur dan Tengah.  CBSD menyebabkan menyebabkan kering akar pada ubi sehingga tidak dapat dimakan.

Para peneliti di IITA dan ARI telah mengidentifikasi beberapa varietas singkong dengan berbagai tingkat ketahanan terhadap penyakit.  “Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi penanda DNA yang berhubungan dengan gen-gen ketahanan pada varietas-varietas tersebut dan menggabungkan seleksi penanda bantu kedalam program pemuliaan singkong”, kata IITA dalam press releasenya.

“Pemuliaan untuk singkong tahan penyakit merupakan cara paling efektif dan berkelanjutan untuk mengontrol penghancuran efek-efek dari virus,” kata Morag Verguson, peneliti IITA dan pemimpin proyek ini. Tetapi pemuliaan konvensional biasanya memakan waktu 8 sampai 12 tahun untuk menghasilkan sebuah varietas yang baik.  Morag mengatakan bahwa pemuliaan molekular secara signifikan akan mengurangi waktu penelitian dengan “membiarkan seleksi lebih awal dalam lingkaran pemuliaan dan dengan meningkatkan akurasi seleksi.”

Kunjungi http://www.iita.org/cms/details/news_feature_details.aspx?articleid=3152&zoneid=342. untuk artikel aslinya.