Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 2 October 2009
Pemanfaatan tanaman jagung sebagai bahan baku biofuel ditakutkan menyebabkan peningkatan dalam jumlah residu pupuk dan pestisida disekitar lahan jagung tersebut, ungkap sebuah studi yang dipimpin oleh ilmuwan dari Purdue Indrajeet Chaubey dan Bernard Engel. Studi yang didanai oleh Departemen Pertanian Amerika tersebut dimulai untuk menentukan dampak lingkungan dari peningkatan lahan jagung dari 93 juta akre di tahun 2007 menjadi 12,1 juta akre tahun lalu.
Studi itu membandingkan lahan-lahan dengan rotasi jagung terus menerus dengan lahan dengan rotasi jagung – kedelai. “Nitrogen dan fungisida lebih sering digunakan pada tanaman jagung dibandingkan kedelai. Kehilangan sedimen menjadi lebih umum dikarenakan pengolahan seringkali dibutuhkan dibandingkan dengan rotasi dimana tidak dibutuhkan pengolahan lahan,” ujar Engel. Beberapa studi yang serupa akan dilakukan di wilayah penanaman jagung lainnya seperti Iowa, Tennessee dan Arkansas dan juga akan meliputi dampak dari berbagai biofeedstock, mengembangkan praktek manajemen demi menekan kehilangan sedimen, nutrisi dan pestisida.
Lihat artikel lengkapnya di http://www.purdue.edu/newsroom/research/2009/sep/090928ChaubeyWater.html