Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

KERAGAMAN HAYATI Ketahanan Pangan Sumba Timur Menurun

Tanggal: 24 June 2019 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis:

WAINGAPU, KOMPAS - Ketahanan pangan warga di perdesaan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, menurun. Masyarakat yang dulu bisa memenuhi kebutuhan dengan beragam sumber pangan kini bergantung pada beras yang dibeli dari luar.

 

"Sampai 1980-an kami belum beli beras dari luar karena hasil ladang cukup dan jalan ke kota susah. Hasil ladang selain padi, watar wili (sorgum), uhu kani (jewawut), dan beragam umbi," kata Yusuf Umburutung (57), warga Desa Mauramba, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, yang ditemui Minggu (23/6/2019) di Waingapu.

 

Beberapa jenis umbi yang pernah jadi konsumsi warga di antaranya lintang, ganyong, luwa, ubi jalar, singkong, dan keladi. Umbi yang masih dibudidayakan di antaranya singkong dan ubi jalar, terutama untuk pakan ternak. "Warga makan beras dengan jagung, tapi hasil ladang tak cukup sehingga harus beli dan bergantung pada bantuan beras," kata Kepala Desa Mauramba, Stepanus Tamu Ama.

 

Hasil ladang dan sawah di desanya mencukupi kebutuhan pangan warga empat bulan setelah panen. Mulai September sampai April warga mulai membeli beras dari luar. "Tanaman padi makin sedikit hasilnya karena banyak hama dan hujan tak tentu. Sorgum cocok di sini, hasilnya bagus, tapi warga jarang tanam karena mau praktis," ujar Yusuf.

 

Cocok dengan iklim

Situasi serupa terjadi di Desa Meurumba, Kecamatan Kahaungu Eti. Kepala Desa Meurumba, Balla Nggiku (60), mengatakan, sebelum 1980-an, sorgum jadi makanan pokok yang dibudidayakan warga. "Waktu kecil sering makan sorgum, tetapi sejak 20 tahun terakhir tak pernah lagi. Dari 290 keluarga di desa, yang tanam sorgum tak sampai 10 keluarga," tuturnya.

 

Rata-rata setiap keluarga membeli beras dari luar 20-100 kilogram per bulan. Iklim di Sumba Timur yang kering kurang cocok dengan padi sehingga perubahan pola konsumsi warga ke beras menimbulkan defisit pangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumba Timur 2016, produksi beras lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras warga Sumba Timur 32.5 persen dari total konsumsi 125.427 ton.

 

Situasi ini sejalan dengan hasil studi oleh Delphine, Renard dari Universitas California Santa Barbara, Amerika Serikat, dan David Tilman dari Universitas Montpellier , Perancis, yang dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (20/6). Kajian di 91 negara ini menemukan, keragaman budidaya tanaman jadi solusi efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan. (AIK)