Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 9 September 2011
Para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan kelompok lain yang terlibat dalam kemajuan bioteknologi di Uganda telah membentuk Konsorsium Bioteknologi dan Keamanan Hayati Uganda (UBBC) untuk memperkuat upaya mereka bergerak di bidang bioteknologi dan hukum keamanan hayati. Menurut kelompok ini, tidak adanya hukum pasti mengenai bioteknologi, yang hanya menjadi draft selama lebih dari delapan tahun, membuat negara itu tidak punya kesempatan untuk menggunakan keuntungan dari bioteknologi.
Menurut Erostus Nsubuga, ketua UBBC, koalisi akan menyatukan suara kelompok-kelompok di Uganda agar memperkuat percepatan pemanfaatan bioteknologi guna meningkatkan mata pencaharian di Uganda. "Selama bertahun-tahun, banyak orang secara individual mendorong diberlakukannya hukum. Kami telah membuktikan bahwa bekerja secara individual tidak akan berhasil. Bekerja bersama-sama akan membantu kita memindahkan gunung," tegas Nsubuga.
Baca cerita aslinya di http://allafrica.com/stories/201109070173.html