Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 2 October 2009
Pelabelan makanan RG baru-baru ini dibicarakan dalam sebuah Seminar mengenai Bioteknologi di Ho Chi Minh City. Dikarenakan makanan dan tanaman hasil rekayasa genetika seperti kedelai, jagung dan tanaman lainnya akan segera memasuki pasar Vietnam, kebutuhan untuk mengembangkan suatu UU pelabelan makanan RG diakui. Badan yang berwenang kini sedang merancang sebuah dekrit bahwa makanan yang mengandung lebih dari 5% bahan RG harus dilabel sebagai biotek.
Pada seminar tersebut, Professor Paul Teng, dekan dari Program Sarjana dan Kantor Riset dari Nangyang Technical University Singapura, mengingatkan bahwa kewajiban pelabelan makanan RG akan meningkatkan ongkos produksi sebesar 12% dan dengan demikian mengakibatkan suatu peningkatan sebesar 10% dalam harga produk tersebut. Ia juga menekankan bahwa hal yang terpenting adalah untuk memberikan pilihan bagi para konsumen atas produk dan informasi produk, bukan untuk alasan keamanan dikarenakan semua makanan RG harus disetujui untuk dijual oleh badan-badan regulator setelah melakukan pengkajian risiko.
Lihat artikel tersebut di http://english.vietnamnet.vn/tech/2009/09/870083/ Untuk informasi lebih lanjut mengenai bioteknologi di Vietnam, hubungi Ngoc Nguyen Bich dari Agbiotech Viet di:nbngoc78@yahoo.com