Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 4 December 2009
Hasil dari sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di International Institute for Tropical Agriculture (IITA) Nigeria menunjukkan bahwa riset pertanian mengurangi jumlah penduduk miskin di sub-Saharan Afrika mencapai 2,3 juta tiap tahunnya. Laporan yang ditulis oleh Arega Alene dan Ousmane Coulibaly, menemukan bahwa perkiraan tingkat pengembalian agregat dari riset pertanian mencapai sebesar 55 persen dan bahwa investasi ganda dalam riset dan pengembangan pertanian di wilayah tersebut dari saat ini 650 juta USD dapat mengurangi kemiskinan mencapai dua persen tiap tahun.
Namun, studi tersebut mencatat bahwa wilayah itu juga menghadapi beberapa hambatan diluar sistem penelitian yang menghambat realisasi potensi manfaat riset, terutama lemahnya sistem ekstensi, kurangnya kredit efisien dan sistem suplai input, serta miskinnya pembangunan infrastruktur. Upaya yang bertujuan untuk perbaikan tantangan-tantangan ini lebih lanjut dapat berperan dalam mengurangi kemiskinan ketika dibarengi dengan riset pertanian.
Baca artikel aslinya di http://www.iita.org/cms/details/news_feature_details.aspx?articleid=3078&zoneid=342