Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Perlu Etika & Moral Dalam Bioteknologi

Tanggal: 5 December 2009 | Sumber: http://pikiran-rakyat.com/cetak/1004/19/1104.htm | Penulis: Sri Nurilla Fazari

SECARA leksikal, makna bioteknologi adalah teknik yang mengubah suatu bahan mentah melalui proses transformasi biologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat demi kelangsungan hidup manusia sepanjang hayatnya.

Mungkin di millenium ketiga ini kita sering mendengar istilah bioteknologi ini. Padahal, sudah sejak abad 11, manusia sebetulnya menggunakan prinsip dasar ini. Pembuatan makanan seperti tempe, peuyeum, dan yoghurt adalah makanan hasil bioteknologi.

Bioteknologi sudah merebak di banyak bidang seperti, pertanian, peternakan, kesehatan. Semuanya bertujuan agar kita survival dalam kehidupan.

Di bidang pertanian ada kapas transgenik, jagung, buah-buahan (seperti durian Bangkok), bunga (misalnya bunga tulip yang berwarna-warni di Jepang), dan hampir semua tanaman dapat dilakukan rekayasa genetika.

Hasilnya pun sangat menakjubkan. Bayangkan saja, dengan lahan yang makin sempit, ternyata tanaman yang dihasilkan lebih banyak dan berkualitas dari segi ukuran, rasa, mutu, serta tahan hama penyakit. Negara tercinta kita Indonesia sebagai negeri tropis ini memang banyak hama tanaman dimana-mana. Jadi, membutuhkan bioteknologi itu.

Lihat saja saat panen di satu tempat, hama pasti menyerang. Intinya di iklim tropis, hama-hama penyakit seperti dipelihara karena berkembang terus. Jauh berbeda dengan musim di negara-negara Eropa yang bermusim dingin. Secara alami dapat mengatasi hama.

Tidak terbayangkah kehebatan rekayasa genetika pada tanaman sehingga tanaman di Indonesia benar-benar menjadi bebas hama? Hasilnya pun akan lebih baik?

Di Indonesia sendiri, seperti dikatakan oleh Marlene Nalley (2001) dalam makalah "Falsafah Sains", belum banyak diterapkan metode bioteknologi, terutama dalam bidang pertanian.

Negara-negara lain yang telah berkutat dengan bioteknologi justru menggunakan tanaman Indonesia sebagai plasma nutfah mereka, seperti contohnya durian Bangkok, dan nangka kuning di Amerika.

Dalam peningkatan bidang peternakan telah dirancang suatu ilmu berbasis bioteknologi seperti kloning (yang terkenal adalah domba Dolly), inseminasi buatan (peternakan sapi di Lembang sudah menggunakannya), fertilisasi in vitro (telah berkembang pesat dan berhasil dilakukan riset pada kelinci, mencit, sapi, babi, domba, sampai manusia), splitting (yang mampu menghasilkan anak kembar identik pada domba, sapi, babi, dan kuda, dan masih banyak lagi).

Contoh di Indonesia adalah babi transgenik, hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muladno bersama teman-temannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), menjadi jawaban terbaru kenapa Allah mengharamkan manusia makan babi.

Penelitian ini sudah berhasil memproduksi hemoglobin manusia sebanyak 10-15% dari total hemoglobin manusia selain beberapa organ dalam babi yang dapat dicangkokkan ke dalam tubuh manusia karena "kemiripannya".

Sedangkan di bidang kesehatan, sudah jelas dapat mengatasi penyakit dengan melakukan pengubahan terhadap susunan gen-gen yang termutasi. Produksi hormon insulin untuk pengidap diabetes mellitus juga adanya pra-Implantasi Genetik Diagnosis yang memungkinkan stem cells memproduksi sel-sel yang diacu karena kekurangan.

Contohnya kasus Molly, gadis berusia 6 tahun yang merupakan anak tunggal dan orang tuanya menginginkan cara yang benar-benar aman untuk menghindarkan putrinya dari penyakit leukimia. Dengan metode ini akhirnya memacu sumsum tulang belakang untuk menghasilkan sel darah.

Begitu mengagumkan karunia Allah SWT yang menciptakan otak dan akal pada manusia. Dengan kecerdasan, manusia mencari ilmu setinggi-tingginya demi kesejahteraan manusia sendiri. Dengan mengingat bahwa semua yang ada dalam diri adalah pemberian-Nya, maka ilmu pengetahuan pun dapat sejalan dengan etika dan moral.

Beberapa pihak mengatakan tanpa hal tersebut seseorang dapat menyalahgunakannya pada tempat yang salah, seperti menciptakan monster, misalnya. Tidak terbayangkan andaikata ada orang yang memang berminat "menciptakan" Hulk (manusia raksasa hijau). Atau mengamplifikasi DNA tua dari gen dinosaurus seperti yang terlihat dalam film Jurassic Park.

Sehebat apapun otak manusia, pastilah penciptaan kita tidak sempurna 100%, lagipula siapa yang dapat mengklaim bahwa dirinya seorang perfect tanpa cacat?

Seperti halnya kemantapan jalan bioteknologi ini, banyak pihak yang kontra karena mereka tidak menjamin keamanan makanan hasil transgenik, malah membahayakan. Selain demi kesehatan, tanaman transgenik dapat merusak keseimbangan alam di mana serbuk sari jagung di alam bebas dapat mengawini gulma-gulma liar, sehingga menghasilkan gulma unggul yang sulit dibasmi.

Kemudian juga jagung yang direkayasa sebagai pakan unggas dan menjadikan produk akhir unggas tersebut terdapat genetic modified organism (GMO) yang dikhawatirkan membahayakan manusia. Selain itu, malah ada dugaan bahwa SARS yang menggoyahkan dunia kemungkinan akibat rekayasa genetika virus Corona.

Walaupun belum ada laporan resmi, teknologi secanggih apapun pastilah akan berdampak terhadap lingkungan.

"Setiap waktu ilmuwan akan mengadakan penelitian dia harus sadar akan kedudukannya sebagai manusia di bumi ini. Dia harus sadar bahwa ilmu pengetahuan yang dapat dikuasainya hanyalah sebagian kecil saja dari Al-Ilm, ilmu yang dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan bahwa ia hanya pesuruh-Nya di bumi ini yang diminta untuk menjaga keseimbangan antara mahluk yang ada di bumi ini" (Nasoetion, 1998)

Menurut saya, inilah filsafat yang harus dipegang kita sebagai manusia berakal untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa kerusakan moral, etika, dan bahaya material spiritual.***

Penulis adalah mahasiswa Departemen Biologi 2001 ITB