Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 2 July 2010
Para ahli yang menghadiri sebuah pertemuan internasional mengenai “Kontribusi pendekatan agroekologi untuk memenuhi kebutuhan pangan global 2050” di Brussels 21-22 Juni lalu mendesak masyarakat internasional untuk memikirkan kembali kebijakan-kebijakan pertanian saat ini dan membangun potensi agroekologi. Pendekatan-pendekatan pertanian agroekologi meliputi agroforestri (tumpang sari pohon dan tanaman di lahan yang sama), pengendalian hayati, metode pemanenan air, tumpang sari, tumbuh-tumbuhan penutup pupuk hijau, tanaman campuran dan manajemen peternakan.
“Pemerintah dan lembaga-lembaga internasional mendesak perlunya mendorong teknik-teknik pertanian ekologis demi meningkatkan produksi pangan dan menyelamatkan iklim,” ujar Reporter Khusus PBB yang menangani hak atas pangan, Olivier De Schutter. “Dengan lebih dari satu miliar orang kelaparan di planet ini, dan gangguan iklim di depan kita, kita harus dengan cepat meningkatkan teknik-teknik berkelanjutan ini.” Kebijakan-kebijakan untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan agroekologi diidentifikasi selama pertemuan tersebut. De Schutter mencatat bahwa model-model pertanian berkelanjutan dapat ditingkatkan sehingga dapat berhasil untuk para petani miskin.
Artikel aslinya di http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=35105&Cr=food+production&Cr1