Indonesia Biotechnology Information Center
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

Workshop Bioteknologi ABSP II

assets/Uploads/_resampled/SetWidth114-foto-2.jpg

Bali, 28 Juli 2011

ARTIKEL

  • WALHI DESAK PEMERINTAH PERBAIKI SUNGAI DAN SITU

    *REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu  lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...

  • HARGA KAKAO TURUN TERUS, PETANI PUSING

    Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...

  • PARIAMAN DATA KEANEKARAGAMAN HAYATI

    *PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...

PLASMA NUTFAH KENTANG LIAR KUNCI KETAHANAN PENYAKIT

Tanggal : 18 June 2010

Pemuliaan untuk ketahanan berlipat terhadap beberapa penyakit cendawan pada kentang sedang dilakukan dengan menggunakan plasma nutfah kentang liar sebagai sumber ketahanan di the Agricultural Research Service di Madison, Wisconsin. Ahli genetika Dennis Halterman dan Shelley Jansky telah mengidentifikasi spesies kentang liar yang mengandung gen-gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun (late blight), bercak kering (early blight), dan layu Virticillium (Virticillium wilt).

Kentang liar Solanum verrucosum yang mengandung gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun itu disilangkan dengan kentang liar lainnya yang mengandung ketahanan terhadap bercak kering. Hibrida ini kini digunakan  untuk mengintroduksi  gen-gen ketahanan untuk kentang budidaya. Selain itu, gen-gen ketahanan terhadap layu Virticillium yang ditemukan pada Solanum chacoense juga sedang diintroduksikan kedalam plasma nutfah kentang budidaya. Marka molekuler telah diidentifikasi untuk membantu para pemulia tersebut di jalur cepat pengembangan resistansi cendawan berlipat pada kentang budidaya.

Lihat artikel beritanya di http://www.ars.usda.gov/is/pr/2010/100616.htm untuk rincian lebih lanjut