Indonesia Biotechnology Information Center
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

Workshop Bioteknologi ABSP II

assets/Uploads/_resampled/SetWidth114-foto-2.jpg

Bali, 28 Juli 2011

ARTIKEL

  • WALHI DESAK PEMERINTAH PERBAIKI SUNGAI DAN SITU

    *REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu  lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...

  • HARGA KAKAO TURUN TERUS, PETANI PUSING

    Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...

  • PARIAMAN DATA KEANEKARAGAMAN HAYATI

    *PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...

PROTEIN LUMUT TAWARKAN PETUNJUK BAGI PERBAIKAN TEKNIK SEL PUNCA

Tanggal : 2 October 2009

Lumut seringkali diabaikan dan diremehkan. Kadangkala mereka digunakan sebagai bahan bakar, atau sebagai bahan aditif tanah bagi komoditas hortikultura.  Tetapi hanya itu saja. Kini para peneliti dari Tel Aviv University di Israel dan Freiburg University di Jerman mengungkapkan bahwa lumut kecil tersebut dapat menyediakan sebuah “kompas” baru bagi riset sel punca, memberitahukan para ilmuwan bagaimana lebih baiknya memprogram sel punca untuk tujuan medis.

Para peneliti tersebut, yang dipimpin oleh Nir Ohad dan Ralf Reski, telah menemukan suatu manfaat baru dari kelompok protein Polycomb (PcG) yang ditemukan dalam lumut.

Peneliti itu menyarankan bahwa fungsi dasar dari mekanisme PcG dalam lumut, yang umum dengan fungsinya dalam tanaman dan manusia, adalah dalam mengatur diferensiasi sel, menggambarkan saat dimana suatu sel punca “memutuskan” menjadi daun atau bunga, sebagai contohnya.

Nir Ohad beserta rekannya menunjukkan bahwa riset ini memiliki “implikasi langsung bagi studi biologi tanaman, memberikan informasi dasar mengenai bagaimana tubuh dan reproduksi tanaman tersebut diatur. Hal itu menyediakan alat bagi sains untuk mengendalikan spesifikasi jaringan, waktu reproduksi dan perkembangan sifat dalam benih yang bertindak sebagai sumber makanan untuk manusia dan hewan.”

Baca cerita lengkapnya di http://www.aftau.org/site/News2?page=NewsArticle&id=10569