Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

PROTOKOL CARTAGENA TENTANG KEAMANAN HAYATI TANGANI TIGA TOPIK UTAMA

Tanggal : 17 October 2012 | Sumber : CBU

Pertemuan Protokol Cartagena Tentang Keamanan Hayati (CPB) diselenggarakan setiap dua tahun untuk membahas isu-isu yang relevan mengenai pelaksanaan CPB tersebut. Pertemuan yang ke-6 dilaksanakan pada tanggal 1 - 5 Oktober 2012, di Hyderabad, India. The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) berpartisipasi dalam MOP6 dalam rangka mempererat kerjasama dengan The Public Research and Regulation Initiative (PRRI), The African Biosafety Network of  (ABNE) dari The NEPAD Planning and Coordinating Agency, The International Food Policy Research Institute  (IFPRI) / Program for Biosafety Systems (PBS), dan the International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT).

Topik-topik utama dalam agenda MOP6 adalah: pertimbangan-pertimbangan sosial ekonomi, penilaian risiko, dan penilaian terhadap CPB itu sendiri.
Pertimbangan Sosial Ekonomi. Pasal 26 Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati (CPB) menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan, negara pihak yang telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati  dapat mempertimbangkan beberapa faktor-faktor sosial-ekonomi, sesuai dengan kewajiban internasional. PRRI, yang mewakili peneliti sektor publik dari seluruh dunia, dan salah satu delegasi terbesar di MOP6, mengingatkan para delegasi mengenai dampak dan manfaat sosial ekonomi, dan bahwa Pasal 26 tidak berarti memberikan hambatan regulasi.

MOP6 memutuskan untuk membentuk Kelompok Ahli Teknis Ad Hoc (Ad Hoc Technical Expert Group-AHTEG) untuk bertukar informasi dan pengalaman mengenai pertimbangan-pertimbangan Sosial Ekonomi (Socioeconomic Consideration-SEC). Musyawarah juga membahas mengenai keterbatasan anggaran untuk mendukung kegiatan AHTEG.

Pedoman untuk Penilaian Risiko dan Manajemen Risiko. Agenda yang dilakukan adalah pengembangan dokumen-dokumen tentang pedoman penilaian resiko dan manajemen resiko untuk membantu para penilai risiko dalam menerapkan prinsip-prinsip umum dan metode penilaian risiko berdasarkan CPB. PRRI merekomendasikan untuk menguji terlebih dahulu  pedoman yang ada saat ini, sebelum pedoman baru dikembangkan. PRRI menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman selama bertahun-tahun, PRRI telah menghasilkan daftar Organisme Rekayasa genetik (Living Modified Organism-LMO) dan sifat-sifat yang tidak mungkin memiliki efek samping yang diberikan pengecualian dalam pelaksanaan prosedur AIA sebagaimana ditentukan dalam CPB pasal 7.4 .

MOP6 memutuskan untuk menguji dokumen yang berisi pedoman tersebut. MOP6 melihat adanya kebutuhan untuk mengembangkan pendekatan metodologis dalam penilaian resiko dan manajemen resiko serta tinjauan terhadap Protokol, rancangan yang berisi kriteria/ indikator-indikator yang dapat diterapkan dalam evaluasi efektivitas Protokol.

Penilaian CPB. CPB Pasal 35 menyerukan adanya penilaian dan kajian ulang terhadap efektivitas fungsi CPB. PRRI menyatakan beberapa keprihatinannya bahwa:
• Protokol ini hampir tidak digunakan semestinya seperti yang diharapkan, yaitu memberikan alat bagi suatu negara dalam membuat keputusan, sehingga negara-negara tersebut dapat menyebarkan manfaat bioteknologi modern;
• beberapa negara melampaui peraturan Protokol, sehingga menciptakan hambatan-hambatan bagi lembaga penelitian publik untuk melakukan penelitian dan berkolaborasi secara internasional yang semestinya tidak perlu;
• regulator tampaknya terkadang tidak mempertimbangkan manfaat-manfaat signifikan dan potensial yang dapat dirasakan oleh petani dan lingkungan; dan bahwa belum ada laporan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai efek samping PRG pada kesehatan manusia atau keanekaragaman hayati.

MOP6 memutuskan bahwa pedoman tersebut perlu peninjauan dan pengujian ilmiah lebih lanjut dan penerapannya untuk PRG yang berbeda yang diintroduksi pada lingkungan yang berbeda pula.

Untuk informasi lebih lanjut dapat  email ke Mahaletchumy Arujanan, Pusat Informasi Bioteknologi Malaysia ( maha@bic.org.my ).