Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 16 April 2010
Tidak ada keraguan bahwa sektor pertanian memberikan upaya besar demi memperbaiki situasi pangan dunia. Miliaran dolar diinvestasikan pada rekayasa genetika berbagai tanaman. Namun, hanya sejumlah kecil tanaman transgenik yang tersedia di pasar hingga kini. Caius M. Rommens dari J.R. Simplot Company di Amerika mencoba menjelaskan kesenjangan antara riset dan pengembangan tanaman-tanaman rekyasa genetika ini. Ia menulis sebuah tinjauan bertajuk Barriers and Paths to Market for Genetically Engineered Crops yang dipublikasikan dalam Plant Biotechnology Journal. Penghalang yang dibicarakan antara lain:
• keberhasilan sifat di lahan
• konsep produk kritikal
• kebebasan beroperasi
• dukungan industri
• preservasi identitas
• persetujuan regulasi
• penerimaan konsumen
Ia juga menyajikan solusi-solusi yang menjanjikan guna mengatasi kendala tersebut. Sebagai contohnya, ia menyarankan untuk menciptakan persepsi konsumen positif dan memberikan bukti-bukti yang dapat dipahami mengenai keuntungan tanaman transgenik demi memperoleh ritel positif dan penerimaan konsumen.
Tinjauan lengkapnya tersedia di http://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/fulltext/123200391/HTMLSTART?CRETRY=1&SRETRY=0