Workshop Bioteknologi ABSP II
Bali, 28 Juli 2011
Bali, 28 Juli 2011
*REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA* -- Beberapa waktu lalu banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya. Sistem tata kelola air yang dilakukan oleh pemerintah dianggap gagal. Pada...
Kakao merupakan komoditas unggulan *MAMUJU, KOMPAS.com* - Sebagian besar petani tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) mengeluh, menyusul harga komoditi...
*PARIAMAN, KOMPAS.com* - Keanekaragaman hayati sejumlah wilayah pulau di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum didata sebagai tindakan awal upaya pelestarian. Walikota Pariaman Mukhlis...
Tanggal : 2 July 2010
Singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat terbaik. Namun, para petani singkong menghadapi masalah kerusakan fisiologis pascapanen (PPD) yang ditunjukkan oleh akar singkong beberapa hari setelah panen. Sehingga, N. Morante dari the International Center for Tropical Agriculture, bersama-sama dengan sekelompok ilmuwan, mengevaluasi toleransi PDD pada akar dari berbagai sumber plasma nutfah pada interval waktu yang berbeda setelah panen. Dari 21 genotipe yang diuji, tiga diantaranya tidak menunjukkan tanda-tanda PDD 40 hari setelah panen. Hal ini dapat dikaitkan dengan karakteristik antioksidan pada beberapa genotipe dengan tingkat karotenoid tinggi, atau silencing gen tersebut untuk ekspresi PDD akibat iradiasi. Namun, beberapa toleransi tidak dapat dijelaskan dan merupakan subyek penelitian lebih lanjut. Penemuan tersebut menyebabkan ketahanan dapat dimanfaatkan dalam memecahkan masalah PDD dan dapat menguntungkan jutaan petani dengan sumber daya-terbatas di seluruh dunia.
Abstrak studi ini dapat diunduh di http://crop.scijournals.org/cgi/content/full/50/4/1333